Sunday, December 20, 2015

Samosir si Anak Toba

Tema : ''Cerita Rakyat sebagai Wahana Pembangunan Karakter Bangsa''

Samosir si Anak Toba

Suatu hari di sebuah desa di Sumatera Utara dengan khas adat budayanya telah lahirlah seorang anak laki-laki yang terlihat tampan dan sangat kuat, anak tersebut lahir dari seorang ibu yang cantik jelita bak seperti seorang putri dan seorang bapak petani yang sangat rajin bekerja dalam mengais rezekinya dan selalu melakukan yang terbaik dalam pekerjaan. Sesuai dengan perilaku ayah nya yang rajin dan selalu melakukan yang terbaik maka bayi itu diberi nama SAMOSIR (melakukan yang terbaik). Sang Istri bernama Mina ini begitu cantik sehingga banyak tetangga yang iri kepada Toba yang hanya seorang petani tetapi bisa mendapatkan istri yang begitu cantik tersebut.

kala samosir lahir yang dibantu oleh tabib beranak yang dalam keadaan cuaca yang hujan di iringi petir yang bergemuruh maka lahirlah seorang bayi yang tampan dan kuat, tetapi di sekitar kelahiran dari air ketuban tersebut terdapat beberapa sisik ikan yang muncul bersamaan dengan bayi itu.

Si tabib beranak tersebut merasa heran kenapa ada seperti sisik ikan muncul bersamaan dengan Samosir, namun orang tua Samosir memberikan titah untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut apalagi menceritakanya kepada orang lain, “Tabib tolong jaga rahasia ini selamanya ya.?” Minta Toba dan Mina kepada Tabib tersebut. “Baik, saya akan merahasiakannya.” Kata Tabib tersebut. Maka si tabib tersebut menyetujuinya dan melupakannya dengan diberi tambahan uang untuk tidak membocorkan rahasia ini.

Hari demi hari Samosir mulai tumbuh besar sekitar dua tahunan, tetapi untungnya soal tentang sisik ikan yang muncul bersama dengan kelahiran samosir sudah tidak berbekas atau muncul dan terangkat kembali ceritanya. Samosir tumbuh sehat dan kuat serta kelihatan mulai tampan nya seperti ibu nya yang cantik jelita. Banyak para warga yang heran kepada Toba bagaimana dia bisa mendapatkan seorang wanita cantik jelita seperti itu dan seperti putri sedangkan Toba yang hanya seorang petani, banyak diantara para pemuda dan laki-laki yang sudah beristripun menaruh iri dan ingin memiliki Minna Istri Toba dan iri dengan kelahiran Samosir yang terlihat Lucu, kuat dan tampan, apalagi para istri tetangga yang kadang suka mencibir Mina dengan perasan iri dan cemburu akibat para suaminya yang terpikat kepada Minna istri Toba.  

Karena samosir tumbuh sehat dan kuat maka dia sangat gemar sekali makan. seringkali dia hampir selalu menghabiskan sisa sisa makanan dan persediaan yang ada untuk seminggu hanya habis dua atau tiga hari saja, sehingga sang ayah yaitu Toba menjadi semakin rajin mencari rezeky selain bertani dan juga memancing ikan hingga sampai hari sore petang. Karena Toba yang sering pulang sore sehingga ada beberapa pemuda yang iri yang mencoba datang dengan niat tidak baik kepada Minna Istrinya Toba, Namun anehnya mereka selalu mendapatkan kesialan dan halangan yang membuat mereka jera atau gagal.


Suatu hari ketika usia Samosir mulai menginjak usia 8 tahunan dan sudah mulai bisa bermain bersama teman teman sebayanya, saat itu samosir berbuat nakal yaitu menghabiskan makanan teman temannya sehingga membuat teman teman balita nya menangis, awalnya orang tua anak anak balita tersebut hanya bersikap biasa saja karena memang mereka anggap kenakalan anak anak pada umumnya. Namun hari demi hari tingkah Samosir menjadi agak nakal tak lain yaitu sering mengambil dan menghabiskan makanan yang di bawa teman temannya ataupun yang di bawa orang tua mereka.

Hari demi hari dilalui oleh Samosir yaitu dengan sering berbuat nakal dengan selalu tidak tahan untuk menghabiskan bekal atau makanan teman temannya, dengan ke jadian itu yang sering terjadi dank arena cemburu terhadap Minna yang cantik jelita, maka para orang tua mulai menjauhkan anak anak mereka dan mulai sering menegur Samosir, hingga akhirnya para orang tua anak anak teman Samosir menegur Toba dan Mina istrinya yang cantik jelita yang bagaikan bidadari itu secara langsung. Kedua orang tua Samosirpun sudah sering menegur atas kelakuan anaknya yang masih tebilang kecil itu, lalu kedua orang tua Samosir selalu memisahkan Samosir dengan teman teman nya supaya tidak bermain bersama kembali, untuk menghindari kejadian tersebut berulang ulang. Samosir yang malang sekarang dia sudah tak mempunyai teman bermain kembali. Namun biarpun Samosir nakal tetapi dia sering menolong warga yang apabila membutuhkan sesuatu dia berusaha menolongnya, pernah suatu hari seorang warga yang jatuh ke jurang dia tolong, kemudian desa diwarga tersebut ketika dimasuki penjahat maka Samosir yang kuat dan Toba melawan mereka hingga para penjahat lari Tunggang langgang disamping itu istri Toba yaitu Minna mempunyai kekuatan yang mampu membuat para penjahat lari tunggang langgang meninggalkan desa.

Suatu hari ketika Samosir sedang bermain sendirian dia mendengar seorang anak perempuan menangis minta tolong, yang tak lain adalah teman sebaya kampung tersebut yang rumah nya tak begitu jauh dari kediaman Samosir namun mereka tak saling kenal. Anak perempuan tersebut terjatuh ke dalam parit karena di kejar seekor harimau hutan yang besar, lalu samosir datang membantu anak perempuan tersebut dan mengusir harimau tersebut. Akhirnya si anak perempuan tersebut bebas dari harimau besar tersebut, “Kamu tidak apa-apa ?” Tanya Samosir. “aku tidak apa-apa, tapi sakit sekali kalau berjalan” kata anak perempuan tersebut. Anak perempuan tersebut kaki nya terkilir dan kesakitan didalam selokan parit tersebut, akhirnya samosir membantu mengangkat anak perempuan tersebut dan menggendongnya ke rumah orang tua nya. “Nama kamu siapa?” tanya samosir. “Aku Kentari..” jawab anak perempuan tersebut. Setelah sampai dirumah Kentari orang tua Kentari mengucapkan terimakasih pada Samosir. Sehingga si anak perempuan yang bernama Kentari tersebut sekali sekali sering mengajak main Samosir dan membagi makanan kepada Samosir, walaupun begitu tetap rasa lapar Samosir terhadap makanan tidak pernah berkurang, hingga hari demi hari Samosir mulai beranjak remaja dan mulai tampak ketampanan dan kegagahan di dirinya, kini usia nya sekitar 14 tahunan, hanya tetap perasaan lapar yang besar masih ada di dalam dirinya.

Untuk menanggulangi kehidupan makan keluarga Toba sendiri, Samosir yang sudah beranjak remaja mulai di ajak bekerja untuk bertani dan memancing. Tetapi aneh nya ketika memancing Samosir selalu ingin memancing dengan turun langsung ke kolam yang dalam tanpa memakai alat pancing dan berenang bebas kesana kemari bak seekor ikan yang berenang tanpa takut tenggelam, bahkan ikan-ikan pun sepertinya bisa datang sendiri menghampiri Samosir.

Sang ayah Toba hanya terpaku dan tersenyum melihat kepandaian anaknya berenang dan menangkap ikan, bahkan suatu ketika sudah hampir 30 menit ketika Samosir berenang dia tak naik muncul ke atas sehingga membuat cemas Toba terhadap anaknya dan Tobapun turun untuk menyelam mencari Samosir sang anak.”Samosir..!! Samosir..!! teriak Toba sambil menceburkan diri ke sungai itu. tak lain dikata Toba terkejut ketika melihat Samosir yang sedang bermain main menangkap ikan dan di kerumuni oleh ikan-ikan di bawah sungai yang begitu besar.

Malam itu Toba menceritakan hal itu kepada istrinya yang cantik jelita perihal kejadian tadi siang, sang istri terkejut dan meminta sang suami Toba untuk selalu diam dan merahasiakan kejadian tersebut rapat-rapat. Disamping merasa bahagia melihat anaknya itu yang tersirat dia termenung anaknya yang kelakuannya mirip ikan ketika berenang tersirat oleh Toba, hanya sifat nakalnya yang suka menghabiskan jatah makan orang masih tetap ada yang membuat Toba gelisah yang takut menjadi cemoohan para warga di sekitar.

Suatu ketika ada hajatan kecil di kampung  yang terletak di sebelah sumatera utara tersebut, gendang dan irama adat, tarian dan suasana adat Sumatera utara berlangsung cukup meriah yaitu dalam pernikahan salah satu  adat warga tersebut.

Melihat keramaian dan pesta adat yang menarik tersebut terdengar oleh samosir dan keluarganya, namun orang tua Samosir melarang Samosir untuk pergi ke tempat tersebut. tapi tak di sangka Kentari datang kepada Samosir tanpa sepengetahuan orang tua Samosir dan mengajak Samosir untuk melihat pesta tersebut. diam diam Kentari memang menyukai terhadap Samosir, sehingga  selalu begitu senang bermain dengan Samosir yang tampan tanpa melihat kebiasaan buruk Samosir yang hampir selalu melahap setiap makanan yang di temuinya.

Singkat cerita pergilah diam-diam Samosir dan Kentari untuk melihat ke pesta Hajatan tersebut. di sela sela keramaian pesta hajat pernikahan tersebut tiba tiba samosir terpisah dengan Kentari. dikala itu ketika Samosir pergi mencari Kentari tiba di sebuah dapur pesta hajatan tersebut dan tercium wangi masakan pesta pernikahan yang lezat.   Kruyuuk….  kruyuukk  tiba-tiba perut Samosir berbunyi dengan keras.  karena tak tahan melihat hidangan dapur pesta hajatan yang disimpan di dapur untuk siap di hidangkan ke para tamu, para penyaji dan pemasak saat itu sedang ikut melihat tarian adat rame rame, tak terpikir oleh Samosir untuk memakan makanan tersebut tapi apa di kata perut nya begitu lapar dan bersuara kruyukk... kruyukk..   ''hmm''  kalau mencicip sepiring mungkin tidak akan terlihat kekurangan makannannya'' pikir Samosir. ''toh ini buat dibagikan juga'' guman Samosir. lalu Samosir mencoba mencicipi masakannya 1 piring saja dan langsung habis teteapi perutnya malah semakin kencang berbunyi dan perut Samosir malah semakin lapar, hingga akhirnya dicoba 2 piring dan aneh nya semakin lapar dan lapar, ajaib sekali hingga akhirnya hampir habis untuk 50 piring in ajaib, hampir 1/2 habis masakan untuk hajatan tersebut. ketika tarian adat selesai dan semua warga ikut menari bersama maka para penyaji makanan pun mulai menuju dapur dan akan menyajikan masakan tersebut ke para tamu.

Dilain cerita ketika Kentari tersadar dia sedang menari bersama warga, dia teringat akan Samosir dan mulai mencari, tapi ternyata tak di sangka Samosir tengah di temukan oleh para penyaji makanan di dapur sedang melahap makanan tersebut, kaget bukan kepalang para penyaji tersebut melihat masakan nya sudah habis setengahnya hingga berteriak '''aaarrgghh  PENCURI MAKANAN DASAR PENCURI MAKAN!!'' akhirnya yang sedang berpesta pun semua gaduh kaget mendengar semua itu. Marah bukan kepalang pemilik hajatan dan pasangan pengantin tersebut karena pesta kecilnya gagal untuk menyajikan masakan kepada para tamunya khusus tamu undangan nya. “Tangkap Anak Itu ..!!!” teriak pemilik hajatan.

Karena takut nya Samosir pun berusaha kabur dan menyesali perbuatan tersebut, tetapi akhirnya Samosir  terkepung juga dan pasrah ditangkap hingga akhirnya di pukuli oleh para warga, Kentari begitu kecut, kecewa, kesal dan ketakutan yang takut apabila Samosir kenapa-kenapa. Tapi anehnya ketika Samosir dipukuli rame-rame tapi tubuh Samosir tidak kenapa hanya luka luka kecil saja. warga pun heran dan berhenti memukuli Samosir karena kelelahan, tetapi sedikitpun Samosir tidak membalas warga. Akhirnya Samosir di bawa ke orangtuanya. Warga pun memarahi Toba dan Istrinya yang cantik jelita atas kelakuan Samosir, lalu Toba meminta maaf dan berjanji kepada warga akan pergi jauh meninggalkan desa tersebut untuk turun gunung. akhirnya keluarga Toba memarahi Samosir dan merekapun pergi untuk turun gunung dan menjauh dari warga sekitar. Kemudian Toba, Mina dan Samosir tinggal di dasar lembah gunung yang agak jauh dari warga perkampungan sehingga sulit untuk berkomunikasi satu sama lain, namun di samping itu kentari yang merasa bersalah kepada Samosir selalu menemui Samosir dan selalu membawakan makanan kepada Samosir.

Pada suatu hari pergilah Toba dan Samosir untuk bekerja mencari makanan, tempat lahan yang di olah memang agak sedikit jauh dari kediaman Toba dan Samosir, ketika siang hari beranjak untuk makan siang bekal yang di miliki mereka berdua di buka oleh Toba, tetapi apa yang dilihat isi dari bekal keduanya sudah habis dan tak bersisa untuk Toba sedikitpun. Ingin sekali Toba marah tapi dia mencoba untuk sabar kepada Samosir yang telah memakan semua habis bekal mereka dengan perasaan sedikit kesal Toba pun menyuruh Toba untuk kembali menemui ibunya Samosir untuk kembali membawakan bekal makanan yang baru untuk Toba. ''Biarlah siang ini belum makan juga, biar Samosir saja nanti mencarikan ikan yang banyak ke sungai yang besar, toh Samosir kan pintar sekali berenang dan menangkap ikan'' pikir Toba dalam hati.

  Lalu Samosir pun pulang kepada ibunya Mina untuk membuatkan lagi bekal untuk sang ayah. Mina ibunya samosir ini lalu menyiapkan kembali bekal untuk Toba dengan cepat. '' wah pintar sekali ibu ini memasak dan menyiapkan bekal dengan cepat seketika'' kata Samosir kepada Ibunya. Ibunya pun hanya tersenyum dan berkata '' Samosir ingat, bekal ini khusus buat Ayahmu Toba dan jangan kau makan lagi, ini persediaan hari ini yang tersisa habis, kamu harus janji!‘‘ seru ibunya. ''baik bu, aku janji'' jawab Samosir.

Lalu Samosir pun kembali menuju ayahnya Toba dengan cepat sambil berlari, karena pasti ayahnya sudah sangat lapar  untuk makan. ketika Samosir di perjalanan tiba-tiba kaki Samosir terpeleset dan jatuh ke dalam parit berlumpur hingga bekal nasi yang di bawa nya jatuh berceceran ke dalam kubangan air dan lumpur sehingga tidak bisa lagi untuk diambil apalagi dimakan.  dengan berat hati dan takut dimarahi sang ayah Samosir pun mendekati ayahnya dan meminta maaf  sambil berusaha menjelaskan kejadian tadi. ''Apa !! pasti kamu bohong!! kamu sudah memakan lagi kan bekalnya!! kata sang ayah dengan berangnya. ''betul ayah aku tadi jatuh dan bekalnya jatuh berceceran, biar aku ganti dengan banyak mencari ikan di sungai rawa'' timpal Samosir. ''ah dasar kau anak tak tau diuntung,, Kamu Lah Sebetulnya Anak yang Lahir dari seekor ikan!! bentak ayahnya. ''a.. apa kata ayah ?, kenapa ayah bilang aku anak seekor ikan ?”  timpal Samosir. “Aarghh.. “ Guman Toba “(Ya Tuhan aku salah bicara kepada Samosir)” Pikir Toba. “Ti .., tidak ko nak kamu anak ayah dan Ibu, tadi ayah cuman marah saja, masa anak ikan”. Kata Toba. “(Padahal aku sudah disumpah tidak boleh terucap kata itu, Hal itu adalah pantangan buatku untuk bisa menikah dengan ibumu Mina)” Lamunan Toba. “Bagaimana ini tuhan maafkan aku, apakah kutukan itu akan benari datang?)” lamunan Toba. Toba pun melamun sambil merasa ketakutan karena sumpahnya telah dia langgar sambil berpikir apakah akan ada sesuatu yang akan terjadi.

            “Ayah, ayah..!! kata Samosir. Kenapa ayah jadi melamun, ataukah benar aku anak ikan seperti yang ayah bilang?” kata Samosir menjadi curiga. “Tidak ko anaku Samosir, coba lihat diri kamu masa kamu anak seekor ikan” kata Toba kepada Samosir. “Oh begitu, maafkan aku Ayah aku sudah menjatuhkan bekal makan ayah” kata Samosir. “Sudah lupakan! Ayo kita pulang” kata Toba. “Baik Ayah” jawab Samosir. Lalu mereka pun merapikan alat alat bertani dan memancing mereka dan hendak pulang dengan hanya sedikit membawa hasil taninya. Saat itu cuaca mulai mendung dan terdengar gemuruh angin seperti hendak mulai turun hujan. “DDUUAARRRR!!!”..  “DDAARR!!”…..   terdengar kilat dan petir yang sangat besar menyambar daerah itu. “Ohh Tuhan…!” seru Toba dan Samosir kaget bukan kepalang. Lalu muncul suara gemuruh dan asap tebal sekelebat dan berupa bayangan yang tinggi besar mengapung mendatangi mereka. “Ya Tuhan.., siapa itu” kata Toba. “Ayah apa itu ‘’’??  kata Samosir. Ternyata bayangan itu adalah Jin yang dulu pernah bertemu dengan Toba ketika hendak menikahi istrinya Mina. “Si. Siapa kau!!” kata Samosir. “Toba Kau Telah Melanggar Sumpahmu..!!” kata Jin tersebut. “Ma.. maafkan aku Raja.., aku telah salah ucap jangan kau timpakan musibah kepada kami atas kesalahanku” kata Toba. “Tapi Sumpah adalah sumpah, dan akan ku cabut semua yang ada padamu, itu adalah kutukan yang tidak bisa dirubah!!” kata raja Jin.

            Lalu Raja Jin pun pergi dengan suara bergemuruh beserta petir dan kilat yang menyambar nyambar. “Oh Tuhan bagaimana ini, tolonglah aku!! Seru Toba. Ayah apa yang sebenarnya terjadi ayah!! Kata Samosir. “Tidak nak, maafkan atas kesalahan ayah nak” kata Toba. Lalu Toba terperanjat teringat istrinya dan mulai berlari menyusul kepada istrinya. “Ibumu nak, Ibumu...” kata Toba sambil berlari. “A.. apa Ibu? kata Samosir. “Iya Ibu dalam bahaya Nak, cepat susul” kata Toba. Samosir pun berlari secepat-cepatnya menjauhi ayahnya dengan sangat cepat, berbeda dengan Toba yang berlari hanya sebagai tenaga manusia biasa.

            “Ibu…!!!  Ibu..!!” teriak Samosir ketika tiba di depan rumahnya. Lalu Samosirpun masuk kedalam tetapi tidak menemukan siapapun didalam dan mencari lagi keluar. Kebetulan waktu itu Kentari teman Samosir datang berkunjung dan bertemu Samosir. “Kentari apa kau melihat Ibuku ??” Tanya Samosir. “Tidak saya baru datang ko, ada apa? Kenapa kamu tergesa-gesa begitu ?” jawab kentari. “kata Ayah, Ibuku dalam bahaya Kentari..” ujar Samosir dan terus berlari meningggalkan Kentari untuk mencari Ibunya.

            “Samosir..!! Samosir..!!!  panggil Kentari, tetapi Samosir sudah berlari mencari ibunya. Ketika sampai di dekat sungai kecil yang tak jauh dari rumahnya tampaklah Ibunya sedang berdiri di pinggir sungai. Ibu..! Ibu..!! panggil Samosir. Sang Ibu Minna pun menoleh ke arah Samosir dan berkata ''Samosir Anakku, kau sekarang sudah besar nak...'' kata ibu Samosir sambil tersenyum dan menitikan air mata. ''Bu.. Ibu.. sebetulnya ada apa bu ? jelaskan padaku bu..''  kata Samosir. ''Apa yang tadi telah terjadi anakku ?'' tanya Ibunya. ''Sebetulnya bekal tadi untuk ayah jatuh bu, lalu Ayah marah dan tak sengaja berkata kalau aku anak seekor ikan, tapi tiba-tiba kemudian cuaca mulai berubah mendung beserta kilat dan petir menyambar, kemudian tiba-tiba datang raja Jin dan berkata pada Ayah kalau ayah sudah melanggar janjinya'' isak Samosir. ''Oh ibu sungguh menyesalkan hal itu terjadi'' kata ibu Mina sembari sedih. ''Anakku Samosir ini saatnya kamu tau nak, karena sebentar lagi mungkin kita tak akan bertemu kembali'' kata Ibu Samosir. ''Tapi kenapa bu?'' seru Samosir. '' betul anakku kau.. kau.. adalah anak ikan nak'' kata Ibu Samosir sambil terhenti henti. ''A... apa betulkah bu ? tanya Samosir. '' betul Samosir sebetulnya ibu adalah jelmaan seekor ikan yang di kutuk oleh raja jin, ibu sebetulnya adalah anak dari raja Jin dan di kutuk menjadi seekor ikan karena ibu berbuat kesalahan'' jelas ibu Samosir. ''Apa betulkah itu bu? '' isak Samosir. ''betul nak, dulu ketika ayahmu Toba sedang memancing ikan tertangkaplah ibu oleh bapakmu, ketika ayahmu hendak memotong ibu untuk dimasak ibu berbicara pada Ayahmu supaya tidak membunuh ibu, dan ibu berubah menjadi manusia, ayahmu sangat kaget dan membawa ibu ke rumahnya, karena ayahmu orang baik maka ibu selalu menolongnya di rumah dan menjadi istri ayahmu, hingga kamu lahir nak'' jelas Ibunya kepada Samosir sambil menahan rasa sedih. Samosir begitu terhenyak akan cerita Ibunya dan tak tahu apa yang harus diperbuat mungkin ini sudah suratan takdir dalam benaknya. Sang Ibu pun mulai tidak menapak di darat lagi disertai denga asap dan Sinar yang perlahan lahan kulitnya berubah bersisik. “IBUU..!!Jangan pergi bu..!!  Teriak Samosir. “Pergilah kau nak menjauh dari sini naik lah ke sebuah bukit atau gunung yang tinggi untuk menyelamtkan dirimu, karena sebentar lagi badai hujan dan banjir akan segera dating karena kutukan ini” jelas ibunya. Dibelakang Kentari yang mengikuti Samosir pun menyaksikan perubahan Ibu Samosir yang perlahan menjadi seekor ikan. Dikala itu sang ayah barulah samapi mencari anak dan istrinya, tetapi sudah tak Nampak dimana istrinya berada tetapi yang nampak hanya Samosir dan Kentari yang tidak begitu jauh dari Samosir. “ Mana Ibumu anuku Samosir, kau Sudah menemukannya?” Tanya Toba kepada Samosir. “Ibu sudah pergi Ayah..” kata Samosir. Saat itu hujan sudah mulai turun yang lama  kelamaan mulai membesar. Samosir dan ayahnya Toba saling menjelaskan cerita apa yang sebenarnya sedang terjadi, Samosir pun tak kuat menahan tangis dan menyuruh ayahnya untuk pergi meninggalkan lembah ini, namun sang ayah menolak dan bilang bahwa masih ada urusan yang harus di selesaikan dan berjanji menyusul Samosir selepas menyelesaikan urusannya dan memaksa kepada Samosir untuk segera meninggalkan lembah itu. Di belakang yang sejak tadi Kentari yang berdiam diri saja menagajak Samosir untuk pergi ke Desa di atas lembah tempat mereka dulu berada. Lalu mereka berdua pun pergi menuju desa tetapi didesa itu awalnya belum turun hujan. Ketika tiba di desa warga tersebut melihat Samosir dan mengusir Samosir untuk tidak kembali lagi ke kampong mereka. Hujan pun mulai datang di kampung tersebut dan akhirnya Samosir terpaksa harus pergi ke bukit atau gunung yang lain. Akhirnya Samosir memutuskan untuk pergi  ke bukit terdekat yang di keliling oleh gunung-gunung. Kentari pun yang cumin seorang anak remaja tak bisa membela Samosir untuk bisa tinggal di desanya karena sulit untuk menghadapi warga. Samosir berjanji akan pergi ke gunung yang di tengah itu yang dikelilingi gunung-gunung yang lainnyadan Samosir berjanji akan selalu menemui Kentari bila hujan sudah reda nanti. Tetapi warga dan kedua orang tua Kentari melarang Samosir untuk menemui kembali Kentari sebagai temannya. Pedihnya hati Samosir pergi meninggalkan desa tanpa tau harus berbuat apa apa lagi hany teringat ibunya yang sudah pergi entah kemana. “Samosirr !! Nanti aku temui kamu ya !!..” teriak Kentari.  Samosir hanya menoleh kepada Kentari dan pergi lagi. “Samosir..!! Samosir..!!” teriak Kentari memanggil Samosir disertai perasaan iba yang dalam. “Sudah Kentari jangan kau temui lagi Samosir” kata salah satu warga. “betul.. betul.. itu Kentari” kata warga yang lainnya. “kau kan tau bagaimana Samosir itu..” kata salah satu warga lainnya. “tapi kan Samosir hatinya baik..” jawab Kentari. “Bagaimana bisa dibilang baik klo suka mencuri makanan dan menghabiskannya tanpa sisa !” sahut warga lagi. “Tapi.. tapi..” kata Kentari. “Sudahlah Kentari ayo mari kita pulang hujan sudah mulai membesar sekarang” kata orang tua Kentari dengan memaksa.

            Saai itu Toba hanya pergi kesana kemari mencari sang istrinya yang tidak ketemu disertai hujan yang sangat lebat sehingga dalam waktu beberapa jam saja air sudah mencapai lutut. Samosir kemudian mencari sang ayah ke rumah gubuk mereka yang sudah tergenang air setinggi lutut. Setelah menungu hampir malam tiba sang ayah tak kunjung datang dan air sudah mulai mencapai perut Samosir lalu Samosirpun kembali mencari sang Ayah Toba keseluruh lembah  hingga tengah malam lamanya sampai akhirnya air mencapai  dada Samosir. “Ayah..!! Ayah..!! Dimana Kau..!! teriak Samosir terus-terusan memanggil sang ayah yang tak kunjung ketemu. “Apakah ayah sudah pergi ke desa tadi..?” pikir Samosir. “ah tidak mungkin, karena mungkin warga menolak mereka juga” pikir Samosir dalam benaknya. Akhirnya subuh pun menjelang hingga tinggi air sudah mencapai 2 meter menutupi seluruh tubuh Samosir. Akhirnya Samosir naik ke bukit sejenak untuk beristirahat dan berteduh kemudian berdoa kepada Tuhan. “Ya Tuhan tolonglah keluarga kami dari mara bahaya dan bencana ini, pertemukan kembali kami bahagia seperti sebelumnya ya Tuhan..” do’a Samosir kepada Tuhan. Akhirnya Samosir mencari ke tepi Tebing pada Bukit yang dipijaknya untuk mencari sang Ayah bila kemungkinan sudah naik keatas tebing untuk menyelamatkan diri. Hujan terus turun dengan derasnya hingga sudah mencapai dua hari dengan kedalaman air sudah mencapai hampir puluhan  meter. Karena di darat juga tak kunjung menemukan sang ayah lalu kemudian Samosirpun kembali menyelam mencari ayahnya kedalam banjir hujan tersebut, hingga beberapa jam. Tapi tak kunjung juga menemukan sang ayah di dasar maupun di dalam air hingga hari ke tiga. Warga desa yang menjadi resah akan kejadian hujan ini yang terus menerus belum berhenti selam 3 hari kemudian berkumpul dan berdoa meminta hujan untuk segera di hentikan dan mereka belum mengetahui kalau dibawah lembah gunung air sudah meninggi sudah ratusan meter. Mereka merasa heran apa yang terjadi gerangan sehingga hujan terus menerus tidak berhenti dan mulai membuat kerusakan pada rumah dan ladang mereka. Di hari ke 4 warga pun berkumpul kembali di Rumah Tetua adat dan merundingkan kiranya apa yang terjadi penyebab hujan ini. Lalu salah satu warga teringat akan kejadian pas waktu hujan dengan pengusiran Samosir. Lalu warga mendatangi Kentari dan meminta penjelasan kepada Kentari kenapa Samosir pas waktu itu hendak masuk ke perkampungan mereka kembali. Akhirnya kentaripun menjelaskan kepada warga apa yang telah terjadi sebelumnya pada keluarga Samosir.  Setelah warga mengetahui apa yang telah terjadi sebelumnya kepada keluarga Samosir , Ayah dan Ibunya., warga pun merasa iba dan berusaha akan meminta maaf kepada keluarga Samosir dan bersama-sama berdo’a kepada Tuhan untuk segera menghentikan hujan yang sudah mulai merusakan alam ini di hari ke enam ada salah seorang warga yang sudah melihat bahwa air sudah sangat meninggi mendekati perkampungan desa tersebut. Warga begitu panic dan bersiap-siap untuk segera meninggalkan desa tersebut sebelum ikut tenggelam. Dikala Itu Samosir terdiam di bukit tebing yang berada di tengah-tengah yang dikelilingi Gunung-gunung dan bebukitan dan hanya termenung dan terdiam menyaksikan apa yang telah terjadi kepada dirinya dan keluargnya sambil menunggu hujan reda, hingga sudah tak terkendali lagi rasa lemas dan sedih yang diarungi Samosir sehingga dia hamper-hampir pingsan dan tertidur begitu lama disertai hujan dan gemuruh petir dan kilat. Dan di hari ke tujuh para warga pun kembali berdoa kepada Tuhan dengan bersungguh-sungguh dan berjanji akan meminta maaf kepada Samosir atas apa yang telah terjadi antara warga dan keluarga Samosir. Menjelang sore hari tiba tiba hujan mulai mereda dan akhirnya berhenti dan warga pun turut bergembira atas berhenti hujan yang bisa menenggelamkan desanya itu. Lalu akhirnya warga mendekati lembah bawah gunung yang sudah tenggelam oleh air yang sangat luas dan melihat pemandangan baru seperti lautan air yang tergenang di kelilingi oleh tebing gunung-gunung dan di tengahnya ada sebuah pulau yang tersisa dikelilingi genangan lautan air. Dan lautan air itupun seperti membentuk sebuah Danau yang besar dengan kedalaman sekita 505 meter beserta sebuah pulau di tengahnya yang terdapat saat itu Samosir yang tengah tertidur dan  dihiasi pemandangan air yang jernih dengan langit biru, awan dan pelangi yang mengitari antara danau dan sebuah pulau tersebut dengan indah. Gunung yang sekarang menjadi pulau tersebut adalah tempat dimana Samosir tertidur panjang dan disitulah Samosir pernah bilang kepada Kentari akan tinggal ketika di usir oleh warga. Kentari dan para warga hanya melihat dan tersibak pada apa yang telah terjadi hari itu seakan-akan itu hanya sebuah mimpi belaka.

            Beberapa hari berlalu dan warga menanyakan kepada Kentari dimana sekarang Samosir berada untuk bisa meminta maaf dan mencari keluarga Samosir dan Kentari pun menunjukan bahwa Samosir berkata bahwa dia akan berada di gunung yang telah menjadi pulau itu yang sekarang dikelilingi lautan air.

            Akhirnya warga memutuskan untuk mencari Samosir ke pulau itu dan membuat rakit, tetapi ketika warga mencari ke pulau berkali-kali tak pernah mereka menemui Samorir, Toba ataupun  Minna istrinya Toba. Kentari pun hanya bisa termenung dan terdiam di samping lautan air yang membentuk danau tersebut sambil menunggu janji Samosir untuk segera menemui Kentari. Tetapi hari demi hari minggu demi minggu hingga berbulan-bulan Samosir, Toba dan Minna tak pernah muncul dan tak bisa ditemukan.

            Di lain cerita Istri Toba yaitu Minna akhirnya menjadi seekor ikan selamanya dan menjadi penghuni di danau tersebut, Toba yang sejak awal mencari istrinya kesana kemari dan tidak pernah kembali ternyata sudah terkubur didasar air danau tersebut dengan tragis yang tersangkut oleh akar-akar dan ranting-ranting pepohonan yang ikut tenggelam bersama luapan air hujan tersebut. Dan Samosir yang sudah tertidur lama dan panjang menghilang lenyap entah kemana tanpa ada jejak sedikit pun di pulau tersebut dan tanpa ada petunjuk apapun tentang keberadaan Samosir.

Hingga selama bertahun-tahun Kentari setiap hari menunggu Samosir dengan membawa makanan sambil menahan sedihnya di dekat Danau tersebut dan  begitu setianya menunggu Samosir untuk datang menepati janjinya yang barangkali suatu saat akan datang menemuinya “Samosir.. Samosir..!! dimana kau..!! kau sudah berjanji padaku untuk menemuiku.!!!  Ujar Kentari tak berdasar sambil mengitari danau.


            Dengan kejadian cerita yang terjadi didaerah Sumatera Utara tersebut kemudian dikisahkan oleh warga tersebut, mereka menamai danau tersebut dengan nama Danau TOBA dengan jarak panjang 100 km2 dan lebar 30 km2 beserta pulau yang ditengah-tengahnya itu untuk mengenang Samosir mereka namakan dengan nama Pulau SAMOSIR hingga akhirnya cerita ini di kisahkan turun temurun kepada anak cucu mereka hingga sekarang.

By : Ahmad Jaya

Wednesday, August 19, 2015

Lebaran yang Sehat

Tema : Lebaran Lebih Baik

Lebaran yang Sehat




     Seperti biasa bulan puasa merupakan bulan yang di tunggu-tunggu dikarenakan pada waktu lebaran orang-orang yang di cintai berkumpul semua untuk saling silaturahmi dengan bertepatan waktu nya setiap orang untuk mudik menemui sanak family dan saudara dan kerabatnya terutama di kampung halaman. Beberapa tahun belakang ini kebetulan saya mulai mengidap penyakit maag akut dan alergi pernapasan dengan diagnosa yang salah dan malah diberi obat TBC selama hampir 1 tahun, sehingga makin parahlah penyakit saya hingga menjadi belum sembuh-sembuh dan seringa mendapat perawatan inap di Rumah Sakit, hingga akhirnya berobat ke salah satu dokter dan akhirnya ditemukan penyakit apa saya dan menghentikan pengobatan TBC yang lama itu. Akhirnya penyakit maag dan alergi ku sering kambuh karena telatnya penangan yang salah. Karena penyakitku ini yang sering menggangu sebelum bulan puasa dan mulai ketika memasuki bulan puasa. 
     Oleh karena itu sering sekali saya tidak mengikuti puasa dikarenakan penttkitku ini yang bingung untuk di sembuhkan. sehingga tidak sempurna lah ibadahku beberapa tahun ini. Selain ibadah tidak sempurna juga tidak bisa ikutan mudik atau silaturahmi ke beberapa keluarga dan sanak saudara lainnya. Sedih rasanya tidak bisa ikut silaturahmi dan mudik kesanak saudara terutama yang jauh, bahkan untuk makan-makanan dan kue-kue lebaran yang selalu dinanti tidak bisa dinikmati dengan bebas selama itu. Bahkan pas setelah lebaran sebelumnya salah satu saudaraku yang tinggal dibandung di diagnosa penyakit kangker dan getah bening, beserta ibu yang sakit-sakitan pula ikut menjaga keponakanku yang sedang sakit di jakarta, Ayahku pun yang terkena penyakit Kangker Nasoparing yang sakit nya berbarengan dengan diri saya meninggalkan seluruh keluarga duluan. Kemudian saudaraku yang di bandung seorang perempuan yang memiliki dua orang anak yang berpisah dengan suaminya. Saudaraku yang hanya tinggal sendiri dan kedua anak laki-lakinya yang ditinggal untuk bekerja. 
     Saudara perempuanku itu mengurus rumah tangga sendirian dan bekerja untuk menafkahi anak-anaknya sendirian dan kemudian didiagnosa penyakit kangker dan getah bening dan bukan hanya itu dia di guna-guna oleh dua orang sekaligus. Saudara perempuan saya kemudian berobat ke orang ahli atau kiayi yang sesuai syariah agama dan dikatakan ada keluar beling-beling kaca dan paku yang tertanam di tubuh kakak perempuan saya. 
     Rasanya lengkaplah penyakit menimpa keluargaku ini. Saya yang masih sakit-sakitan waktu itu tidak bisa bersilaturahmi dan menengok saudara perempuan saya itu. Sungguh kasihan melihat perjuangan Ibu saya yang pergi ke bandung cianjur dan Jakarta pulang pergi hanya untuk mengurus anak-anak dan cucu-cucunya. 
     Di Lebaran terakhir kemarin kami berpikir bahwa kami tidak akan bisa berkumpul dan hanya lebaran di daerah masing -masing tanpa bisa silaturahmi. dan saya sempat terpikir bahwa saya tidak akan bisa berpuasa kembali tahun ini. Tapi saya selalu berusaha untuk selalu berhusnudona dan berbaik sangka. Akhirnya puasa yang biasanya dulu dinanti mulai datang dan tanpa disangka ketika saya mencoba berpuasa sehari-dua hari ternyata maag akut dan alergi pernapasan biasa saja hanya sedikit terasa lama-lama seminggu ternyata saluran pencernaan saya makin bertambah baik dan nyaman. Hingga akhir nya saya memutuskan untuk pergi bersilaturahm ke saudara perempuanku juga. Tetapi waktu itu pekerjaan saya yang harusnya libur malah menjadi bertambah. Dengan perasaan bersabar akhirnya seminggu sebelum lebaran kesibukan saya sudah berkurang. dan akhirnya saya memutuskan untuk liburan dan menjenguk saudara perempuan saya di bandung.
     Dan ketika tiba di rumah Saudara saya itu ternyata Saudara saya itu sudah mulai sembuh dari penyakit-penyakit kangker dan guna-guna sehingga bisa beraktivitas kembali menuju normal. betapa bahagianya saya seminggu tinggal menemani saudara saya dan akhir nya pas hari Lebaran tiba kami semua bisa pulang mudik kembali ke Cianjur sehingga yang dari jakartapun kumpul datang mudik dan berfoto bersama.


 
   Perasaan bahagia dan Suka terpancar dari wajah kami semua yang awalnya kami pikir tahun ini kami tidak akan bisa kumpul kembali bersama seperti Lebaran-lebaran yang dulu. Tetapi Allah berkehendak lain buah dari kesabaran, berdo'a dan ikhtiar untuk selalu berusaha untuk berobat dengan benar akhirnya mendapatkan akhir yang baik dan bahagia. Sehingga kami bisa berkunjung bersama ke keluarga lain dan jalan-jalan. Sehingga Tahun ini adalah Lebaran Lebih Baik dari beberapa tahun sebelumnya yaitu Lebaran yang Sehat dan menyenangkan. Terimakasih ya Allah atas segala nikmatmu yang kau kembalikan kepada kami di tahun ini.         :-) 




Wednesday, January 7, 2015

seven wonders of India

1. Bahubali

 

 

Bahubali (Sanskrit: बाहुबली) also called Gommateshwara (Kannada: ಗೊಮ್ಮಟೇಶ್ವರ Tulu: ಗೊಮ್ಮತಾ) was a son of Arihant Adishwar. According to Jainism, he was the second of the hundred sons of the first Tirthankara, Rishabha and king of Podanpur. The Adipurana, a 10th-century Kannada text by poet Adikavi Pampa (fl. 941 CE), written in Champu style, a mix of prose and verse and spread over in sixteen cantos, deals with the ten lives of the first tirthankara, Rishabha and his two sons, Bharata and Bahubali.[1][2] According to the Digambaras he was the first human in this half time cycle to attain liberation.[3]
A monolithic statue of Bahubali referred to as "Gommateshvara" built by the Ganga dynasty minister and commander Chamundaraya is a 57 feet (17 m) monolith and is situated above a hill in Shravanabelagola, in the Hassan district of Karnataka state, India. It was built in the 10th century AD.[citation needed] Hundreds of thousands of pilgrims, devotees and tourists from all over the world flock to the statue once in 12 years for an event known as Mahamastakabhisheka. On August 5, 2007, the statue was voted by Indians as the first of Seven Wonders of India.[4] 49% votes went in favor of this marvel.



2. Harmandir Sahib

 Golden-Temple-Jan-07.jpg  

 

The Harmandir Sahib (Punjabi: ਹਰਿਮੰਦਰ ਸਾਹਿਬ), also Darbar Sahib (Punjabi: ਦਰਬਾਰ ਸਾਹਿਬ, Punjabi pronunciation: [dəɾbɑɾ sɑhɪb]) and informally referred to as the "Golden Temple",[1] is the holiest Sikh gurdwara located in the city of Amritsar, Punjab, India. The city was founded in 1574 by the fourth Sikh guru, Guru Ram Das.On 3 January 1588 Guru Arjun laid the foundation stone of the Harmandir Sahib and in 1604 he completed the Adi Granth, the holy scripture of Sikhism, and installed it in the gurdwara.
There are four doors to get into the Harmandir Sahib, which symbolize the openness of the Sikhs towards all people and religions. The present-day gurdwara was rebuilt in 1764 by Jassa Singh Ahluwalia with the help of other Sikh Misls. In the early nineteenth century, Maharaja Ranjit Singh secured the Punjab region from outside attack and covered the upper floors of the gurdwara with gold, which gives it its distinctive appearance and its English name.
The Harimandir Sahib is considered holy by Sikhs. The holiest text of Sikhism, the Guru Granth Sahib, is always present inside the gurdwara. Its construction was mainly intended to build a place of worship for men and women from all walks of life and all religions to come and worship God equally.Over 100,000 people visit the holy shrine daily for worship.



3. Taj Mahal

 Taj Mahal (Edited).jpeg  

The Taj Mahal (/ˌtɑː məˈhɑːl/, more often /ˈtɑːʒ/;,[2] from Persian and Arabic,[3][4] "crown of palaces", pronounced [ˈt̪aːdʒ mɛˈɦɛl]; also "the Taj"[5]) is a white marble mausoleum located in Agra, Uttar Pradesh, India. It was built by Mughal emperor Shah Jahan in memory of his third wife, Mumtaz Mahal. The Taj Mahal is widely recognized as "the jewel of Muslim art in India and one of the universally admired masterpieces of the world's heritage".[6]
Taj Mahal is regarded by many as the finest example of Mughal architecture, a style that combines elements from Islamic, Persian, Ottoman Turkish and Indian architectural styles.
In 1983, the Taj Mahal became a UNESCO World Heritage Site. While the white domed marble mausoleum is the most familiar component of the Taj Mahal, it is actually an integrated complex of structures. The construction began around 1632 and was completed around 1653, employing thousands of artisans and craftsmen.The construction of the Taj Mahal was entrusted to a board of architects under imperial supervision, including Abd ul-Karim Ma'mur Khan, Makramat Khan, and Ustad Ahmad Lahauri. Lahauri is generally considered to be the principal designer.


4. Hampi

 Virupaksha Temple, Hampi, Karnataka  

Hampi (Kannada: ಹಂಪೆ Hampe) is a village in northern Karnataka, India. It is located within the ruins of the city of Vijayanagara, the former capital of the Vijayanagara Empire. Predating the city of Vijayanagara, it continues to be an important religious centre, housing the Virupaksha Temple, as well as several other monuments belonging to the old city. The ruins are a UNESCO World Heritage Site, listed as the Group of Monuments at Hampi.[1] According to statistics of 2014, Hampi is the most searched historical place in Karnataka on Google.[2]



5. Konark Sun Temple

 Konark Sun Temple  

Konark Sun Temple ([koɳarkə]; also Konârak) is a 13th-century Sun Temple (also known as the Black Pagoda),[1] at Konark, in Odisha, India. It is believed that the temple was built by king Narasimhadeva I of Eastern Ganga Dynasty around AD 1250.[2] The temple is in the shape of a gigantic chariot with elaborately carved stone wheels, pillars and walls. A major part of the structure is now in ruins. The temple is a UNESCO World Heritage Site.[3] It is also featured on NDTV's list of Seven Wonders of India and Times of India's list of Seven Wonders of India.

   

Etymology

The name Konark derives from the combination of the Sanskrit words, Kona (corner) and Arka (sun), in reference to the temple which was dedicated to the Sun god Surya.[3]
The monument was also called the Black Pagoda by European sailors. In contrast, the Jagannath Temple in Puri was called the White Pagoda. Both temples served as important landmarks for the sailors.

 

6. Nalanda

 Nalanda University India ruins.jpg   

Nalanda (Nālandā; pronunciation: /nɑː.lən.ðɑː/; ) was an acclaimed Mahāvihāra, a large Buddhist monastery in ancient Magadha (modern-day Bihar), India. The site is located about 95 kilometres southeast of Patna, and was a centre of learning from the fifth century CE to c. 1200 CE. Historians often characterize Nalanda as a university.
Nalanda flourished under the patronage of the Gupta Empire as well as emperors like Harsha and later, the rulers of the Pala Empire. At its peak, the school attracted scholars and students from as far away as Tibet, China, Korea, and Central Asia. It was ransacked and destroyed by an army of the Muslim Mamluk Dynasty under Bakhtiyar Khilji in c. 1200 CE.[11]



7. Khajuraho Group of Monuments

   


Khajuraho Group of Monuments
Name as inscribed on the World Heritage List
Kandariya mahadev.jpg
Kandariya Mahadeva temple, one of the 20 temples at Khajuraho

Location Madhya Pradesh, India
Type Cultural
Criteria i, iii
Reference 240
UNESCO region World Heritage Site, South Asia
Inscription history
Inscription 1986 (10th Session)
Khajuraho Group of Monuments is located in India
Khajuraho Group of Monuments
Location of Khajuraho Group of Monuments in India.
The Khajuraho Group of Monuments are a group of Hindu and Jain temples in Madhya Pradesh, India. About 620 kilometres (385 mi) southeast of New Delhi, they are one of the UNESCO World Heritage Sites in India. The temples are famous for their Nagara-style architectural symbolism and their erotic sculptures.
Most Khajuraho temples were built between 950 and 1050 AD, during the Chandella dynasty. Historical records note that Khajuraho temple site had 85 temples by 12th century, spread over 20 square kilometers. Of these, only about 20 temples have survived, spread over 6 square kilometers. Of the various surviving temples, the Kandariya temple is decorated with a profusion of sculptures with intricate details, symbolism and expressiveness of ancient Indian art.
The Khajuraho group of temples were built together but were dedicated to two schools of Hinduism and to Jainism - suggesting a tradition of acceptance and respect for diverse religious views among Hindus and Jains.









Saturday, November 29, 2014

7 wonders of Romance France

1. The Eiffel Tower

 


The Eiffel Tower (French: La tour Eiffel, [tuʁ ɛfɛl]) is an iron lattice tower located on the Champ de Mars in Paris. It was named after the engineer Gustave Eiffel, whose company designed and built the tower. Erected in 1889 as the entrance arch to the 1889 World's Fair, it was initially criticised by some of France's leading artists and intellectuals for its design, but has become both a global cultural icon of France and one of the most recognizable structures in the world.[1] The tower is the tallest structure in Paris and the most-visited paid monument in the world; 6.98 million people ascended it in 2011.[2] The tower received its 250 millionth visitor in 2010.[2]


The tower is 324 metres (1,063 ft) tall,[2] about the same height as an 81-storey building. During its construction, the Eiffel Tower surpassed the Washington Monument to assume the title of the tallest man-made structure in the world, a title it held for 41 years, until the Chrysler Building in New York City was built in 1930. Because of the addition of the aerial atop the Eiffel Tower in 1957, it is now taller than the Chrysler Building by 5.2 metres (17 ft). Not including broadcast aerials, it is the second-tallest structure in France, after the Millau Viaduct.
The tower has three levels for visitors, with restaurants on the first and second. The third level observatory's upper platform is 276 m (906 ft) above the ground,[2] the highest accessible to the public in the European Union. Tickets can be purchased to ascend by stairs or lift (elevator) to the first and second levels. The climb from ground level to the first level is over 300 steps, as is the walk from the first to the second level. Although there are stairs to the third and highest level, these are usually closed to the public and it is generally only accessible by lift.



2. Seine River

 

The Seine (/sn/; French: La Seine, pronounced: [la sɛːn]) is a 776 km long river and an important commercial waterway within the Paris Basin in the north of France. It rises at Source-Seine, 30 kilometers northwest of Dijon in northeastern France in the Langres plateau, flowing through Paris and into the English Channel at Le Havre (and Honfleur on the left bank).[1] It is navigable by ocean-going vessels as far as Rouen, 120 km (75 mi) from the sea. Over 60% of its length, as far as Burgundy, is negotiable by commercial riverboats and nearly its whole length is available for recreational boating; excursion boats offer sightseeing tours of the Rive Droite and Rive Gauche within the city of Paris.

Bercy, Paris 01.jpg

There are 37 bridges within Paris and dozens more spanning the river outside the city. Examples in Paris include the Pont Louis-Philippe and Pont Neuf, the latter of which dates back to 1607. Outside the city, examples include the Pont de Normandie, one of the longest cable-stayed bridges in the world, which links Le Havre to Honfleur.




3. The Louvre

Le Louvre - Aile Richelieu.jpg

The Louvre or the Louvre Museum (French: Musée du Louvre, pronounced: [myze dy luvʁ]) is one of the world's largest museums and a historic monument. A central landmark of Paris, France, it is located on the Right Bank of the Seine in the 1st arrondissement (district). Nearly 35,000 objects from prehistory to the 21st century are exhibited over an area of 60,600 square metres (652,300 square feet). The Louvre is the world's most visited museum, and received more than 9.7 million visitors in 2012.[1]

 
 
The museum is housed in the Louvre Palace, originally built as a fortress in the late 12th century under Philip II. Remnants of the fortress are visible in the basement of the museum. The building was extended many times to form the present Louvre Palace. In 1682, Louis XIV chose the Palace of Versailles for his household, leaving the Louvre primarily as a place to display the royal collection, including, from 1692, a collection of ancient Greek and Roman sculpture.[2] In 1692, the building was occupied by the Académie des Inscriptions et Belles Lettres and the Académie Royale de Peinture et de Sculpture, which in 1699 held the first of a series of salons. The Académie remained at the Louvre for 100 years.[3] During the French Revolution, the National Assembly decreed that the Louvre should be used as a museum to display the nation's masterpieces.


The Mona Lisa, (Leonardo da Vinci), oil on panel, 1503–19, probably completed while the artist was at the court of Francis I.


The museum opened on 10 August 1793 with an exhibition of 537 paintings, the majority of the works being royal and confiscated church property. Because of structural problems with the building, the museum was closed in 1796 until 1801. The collection was increased under Napoleon and the museum renamed the Musée Napoléon, but after Napoleon's abdication many works seized by his armies were returned to their original owners. The collection was further increased during the reigns of Louis XVIII and Charles X, and during the Second French Empire the museum gained 20,000 pieces. Holdings have grown steadily through donations and gifts since the Third Republic. As of 2008, the collection is divided among eight curatorial departments: Egyptian Antiquities; Near Eastern Antiquities; Greek, Etruscan, and Roman Antiquities; Islamic Art; Sculpture; Decorative Arts; Paintings; Prints and Drawings.





4. Palace of Versailles




The Palace of Versailles (English /vɛərˈs/ vair-SY or /vərˈs/ vər-SY; French: [vɛʁˈsɑj]), or simply Versailles, is a royal château in Versailles in the Île-de-France region of France. In French, it is known as the Château de Versailles.
When the château was built, Versailles was a country village; today, however, it is a wealthy suburb of Paris, some 20 kilometers southwest of the French capital. The court of Versailles was the center of political power in France from 1682, when Louis XIV moved from Paris, until the royal family was forced to return to the capital in October 1789 after the beginning of the French Revolution. Versailles is therefore famous not only as a building, but as a symbol of the system of absolute monarchy of the Ancien Régime.



The earliest mention of the name of Versailles is in a document dated 1038, relating to the village of Versailles. In 1575, the seigneury of Versailles was bought by Albert de Gondi, a naturalized Florentine, who invited Louis XIII on several hunting trips in the forests surrounding Versailles. Pleased with the location, Louis ordered the construction of a hunting lodge in 1624. Eight years later, Louis obtained the seigneury of Versailles from the Gondi family and began to make enlargements to the château. This structure would become the core of the new palace.[1] Louis XIII's successor, Louis XIV, had it expanded into one of the largest palaces in the world.[2] Following the Treaties of Nijmegen in 1678, he began to gradually move the court to Versailles. The court was officially established there on 6 May 1682.[3]
After the disgrace of Nicolas Fouquet in 1661, Louis confiscated Fouquet's estate and employed the talents of Le Vau, Le Nôtre, and Le Brun, who all had worked on Fouquet's grand château Vaux-le-Vicomte, for his building campaigns at Versailles and elsewhere. For Versailles, there were four distinct building campaigns.[4]

The four building campaigns (1664–1710)

View of the Palace from the garden
The first building campaign (1664–1668) commenced with the Plaisirs de l'Île enchantée (Pleasures of the Enchanted Island) of 1664, a fête that was held between 7 and 13 May 1664. The campaign involved alterations in the château and gardens to accommodate the 600 guests invited to the party.[5]
The second building campaign (1669–1672) was inaugurated with the signing of the Treaty of Aix-la-Chapelle, which ended the War of Devolution. During this campaign, the château began to assume some of the appearance that it has today. The most important modification of the château was Le Vau's envelope of Louis XIII's hunting lodge.[6] Significant to the design and construction of the grands appartements is that the rooms of both apartments are of the same configuration and dimensions—a hitherto unprecedented feature in French palace design. Both the grand appartement du roi and the grand appartement de la reine formed a suite of seven enfilade rooms. The decoration of the rooms, which was conducted under Le Brun's direction, depicted the "heroic actions of the king" and were represented in allegorical form by the actions of historical figures from the antique past (Alexander the Great, Augustus, Cyrus, etc.).[7]

Zuidgevel Corps de logis rond 1675 Anonieme schilder.jpg 
 
With the signing of the Treaty of Nijmegen in 1678, which ended the Dutch War, the third building campaign at Versailles began (1678–1684). Under the direction of the architect, Jules Hardouin-Mansart, the Palace of Versailles acquired much of the look that it has today. In addition to the Hall of Mirrors, Hardouin-Mansart designed the north and south wings and the Orangerie. Le Brun was occupied not only with the interior decoration of the new additions of the palace, but also collaborated with Le Nôtre's in landscaping the palace gardens.[8]

Peter Stehlik 2013.04.22 Panorama 1A.jpg 
 
Soon after the defeat of the War of the League of Augsburg (1688–1697), Louis XIV undertook his last building campaign at Versailles. The fourth building campaign (1699–1710) concentrated almost exclusively on construction of the royal chapel designed by Hardouin-Mansart and finished by Robert de Cotte. There were also some modifications in the appartement du roi, namely the construction of the Salon de l'Œil de Bœuf and the King's Bedchamber. With the completion of the chapel in 1710, virtually all construction at Versailles ceased; building would not be resumed at Versailles until some twenty one years later during the reign of Louis XV.[9]




5. Chartres Cathedral 

Chartres Cath+Gare.JPG

Chartres Cathedral, also known as Cathedral Basilica of Our Lady of Chartres (French: Basilique Cathédrale Notre-Dame de Chartres), is a medieval Catholic cathedral of the Latin Church located in Chartres, France, about 80 kilometres (50 mi) southwest of Paris. It is considered one of the finest examples of French Gothic architecture and is a UNESCO World Heritage Site. The current cathedral, mostly constructed between 1194 and 1250, is the last of at least five which have occupied the site since the town became a bishopric in the 4th century.
The cathedral is in an exceptional state of preservation. The majority of the original stained glass windows survive intact, while the architecture has seen only minor changes since the early 13th century. The building's exterior is dominated by heavy flying buttresses which allowed the architects to increase the window size significantly, while the west end is dominated by two contrasting spires – a 105-metre (349 ft) plain pyramid completed around 1160 and a 113-metre (377 ft) early 16th-century Flamboyant spire on top of an older tower. Equally notable are the three great façades, each adorned with hundreds of sculpted figures illustrating key theological themes and narratives.



Since at least the 12th century the cathedral has been an important destination for travellers – and remains so to this day, attracting large numbers of Christian pilgrims, many of whom come to venerate its famous relic, the Sancta Camisa, said to be the tunic worn by the Virgin Mary at Christ's birth, as well as large numbers of secular tourists who come to admire the cathedral's architecture and historical merit.




6. Giverny 

Giverny (French pronunciation: ​[ʒi.vɛʁ.ni]) is a commune in the Eure department in northern France. It is best known as the location of Claude Monet's garden and home.
 
Water lilies in Claude Monet's garden in Giverny 










A settlement has existed in Giverny since neolithic times and a monument uncovered attests to this fact. Archeological finds have included booties dating from Gallo-Roman times and to the earlier 1st and 2nd centuries AD. The town was known in ancient deeds as "Warnacum". The cultivation of grapes has been an occupation of the inhabitants of Giverny since Merovingian times. The village church dates from the Middle Ages and is built partially in the Romanesque style, though additions have since been made. It is dedicated to Sainte-Radegonde. The village has remained a small rural setting with a modest population (numbering around 301 in 1883 when Monet discovered it) and has since seen a boom in tourism since the restoration of Monet's house and gardens.

   

 





7. Arc de Triomphe

The Arc de Triomphe de l'Étoile (French pronunciation: ​[aʀk də tʀiɔ̃f də letwal], Arch of Triumph of the Star) is one of the most famous monuments in Paris. It stands in the centre of the Place Charles de Gaulle (originally named Place de l'Étoile), at the western end of the Champs-Élysées.[3] It should not be confused with a smaller arch, the Arc de Triomphe du Carrousel, which stands west of the Louvre. The Arc de Triomphe (in English: "Triumphal Arch") honours those who fought and died for France in the French Revolutionary and the Napoleonic Wars, with the names of all French victories and generals inscribed on its inner and outer surfaces. Beneath its vault lies the Tomb of the Unknown Soldier from World War I.

Arc de triomphe Paris.jpg


The Arc de Triomphe is the linchpin of the Axe historique (historic axis) – a sequence of monuments and grand thoroughfares on a route which runs from the courtyard of the Louvre to the Grande Arche de la Défense. The monument was designed by Jean Chalgrin in 1806 and its iconographic program pitted heroically nude French youths against bearded Germanic warriors in chain mail. It set the tone for public monuments, with triumphant patriotic messages.
The monument stands 50 metres (164 ft) in height, 45 m (148 ft) wide and 22 m (72 ft) deep. The large vault is 29.19 m (95.8 ft) high and 14.62 m (48.0 ft) wide. The small vault is 18.68 m (61.3 ft) high and 8.44 m (27.7 ft) wide. Its design was inspired by the Roman Arch of Titus. The Arc de Triomphe is built on such a large scale that, three weeks after the Paris victory parade in 1919 (marking the end of hostilities in World War I), Charles Godefroy flew his Nieuport biplane through it, with the event captured on newsreel.[4][5][6]
It was the tallest triumphal arch in existence until the completion of the Monumento a la Revolución in Mexico City in 1938, which is 67 metres (220 ft) high. The Arch of Triumph in Pyongyang, completed in 1982, is modelled on the Arc de Triomphe and is slightly taller at 60 m (197 ft).